Jumat, 06 Juli 2012

PIL SEMANGAT

10 PIL SEMANGAT

                Segala sesuatu yang kita kerjakan harus selalu dibarengi dengan semangat yang tinggi. Karena tanpa semangat kita tidak akan mengerjakan segala sesuatu dengan normal. Ada 10 langkah yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan semangat, yaitu:
1.       Membayangkan hasl akhir.
Membayangkan hasil akhir yang menyenangkan akan memompa kita untuk berlatih atauberusaa lebih keras lagi.
2.       Melihat model yang sukses.
Orang yang pernah memiliki perjuangan yang sama dengan kita dan berhasil mempengaruhi kita bersikap positif. Kita akan tambah bersemangat dan memiliki kemauan yang kuat untuk menjadi sukses dan tidak akan takut untuk mewujudkan cita-cita kita.
3.       Mencari keuntungan.
Keuntungan-keuntungan lain akan mengalihkan pusat perhatian kita dari hal yang membebani, ke sesuatu yang menyenangkan.
4.       Memilih teman yang asyik.
Teman-teman yang asyik akan membuat kita tetap bersemangat. Jika ada yang mau ‘jatuh’, maka yang satu akan mendorong. Kita bisa mengubah sasana jadi lebih riang dengan humor-humor kecil maupun obrolannya yang meriah.
5.       Memperhatikan penampilan.
Dengan memakai baju yang disukai, kita jadi lebih suka pada diri kita, dan jika perlu kita pakai wewangian yang segar.
6.       Membawa benda ‘keramat’.
Bukan keris atau batu aki. Tapi sejenis batu atau benda-benda lain yang mempunyai kenangan indah.
7.       Menjanjikan hadiah pada diri sendiri.
Hal ini dapat membantu kita mengalihkan perhatian dari beban menuju harapan dengan memberikan hadiah.
8.       Menyayangi diri sendiri.
Yang paling tahu kondisi kita adalah diri kita sendiri. Yang paling tahu keinginan kita adalah diri kita juga. Maka diri kitalah yang yang bisa menyemangati diri sendiri.
9.       Melihat ke bawah.
Jika kita terus melihat ke atas maka kita akan kecewa karena kita akan selalu tampak kurang dibandingkan dengan yang lain. Dan sudah seharusnya kita juga mau melihat kebawah. Kita akan merasa berunung disbanding mereka.
10.    Mengingat kesuksesan kita.
Kita bisa seperti sekarang ini karena berbagai kesuksesan. Pada saat kita merasa datar-datar saja, kita ingat kesuksesan yang pernah kita alami.

JENUH=BETE

TIPS ASYIK ATASI KEJENUHAN

                Kesampingkan semua rutinitas cobalah untuk bersantai degan memanjakan diri sendiri. Cobalah bersosialilsai, bertemu degnan kawan lama. Berikut 15 jurus memupus jenuh yang bisa alian coba.
1.       Ekspresikan diri
Cari tempat dan waktu untuk menenangkan diri, dan mulailah mengekspresikan diri. Bisa dengan menulis jurnal atau sekedar oret-oretan di buku yang sudah disiapkan untuk mencurahkan unek-unek. Mulailah dengan hal yang paling sederhana, tulislah dengan jujur tentang diri sendiri, apa yang diinginkan, harapkan, semua rencana masa depan, dan hal yang ingin diwujudkan. Tentang kutipan kata-kata mutiara, puisi, buku dan CD music favorit kamu.
2.       Terus bergerak
Dengan terus bergerak akan memberi banyak keuntungan, bukan saja untuk fisik tapi juga emosi kita. Berjalan adalah salah satu bentuk latihan yang paling mudah. Bisa dilakukan sendirian dengan teman dekat, atau mengikuti klub olah raga.
3.       Mainkan music
Sebagai makanan jiwa, music diyakini mampu menyeimbangkan emosi.
4.       Tertawa lepas
Putar video lucu, cobalah sesantai mungkin dan biarkan kita tawa lepas bersama banyolan konyol si pelawak.
5.       Seleektif makanan
Pasalnya ada jenis makanan tertentu yang justru memicu stress, rasa jenuh dan emosional. Seperti rendah lemak, atau tinggi karbohidrat (popcorn, kue bagel, biscuit beras). Cobalah jenis makanan berkarbohidrat kompleks, seperti roti gandum, pasta, buah-buahan, yang memberi enersi lebih sepanjang hari. Jangan lupa, bahwa cara makan yang benar adalah salah satu dasar menjaga kesehatan sendiri.
6.       Nikmati kesendirian anda
Tentukan ruang dalam rumah, tempat dimana kita bisa meikmati semua aktivitas secara pribadi. Cobalah mencari kesibukan, membaca novel cinta, membuka surat-surat lama atau apa saja yang tidak mungkin dilakukan saat sibuk.
7.       Hubungi kenalan lama
Kita memiliki utang janji dengan seorang teman lama? Sekaranglah saatnya, kita memiliki waktu luang, cobalah kontak dia dan buatlah percakapan yang menarik dengannya. Pasti indah membongkar kembali kenangan manis masa dulu.
8.       Tekuni hobi
Melakukan hobi yang sudah lama tidak dilakukan seperti melukis, membuat desain dan miniature puri, atau yang lain. Saat beranjak dewasa, kadang orang mulai melupakan hobi dan menguburnya dalam-dalam. Demikian juga dengan permainan masa kecil. Mengapa tidak melakukannya sesekali dengan mencoba permainan masa kecil.
9.       Cobalah terapi air
Nikmati saat-saat sepi di rumah degnan terapi air. Nyalakan shower, isi bath-tup dengan kemewahan busa sabun yang berllimpah. Tambah dengan aroma terapi favorit Anda dan cobalah berendam santai. Biarkan semua jenuh dan keletihan Anda terbasuh air.
10.    Lakukan meditasi
Siapkan 20 menit ntuk ‘lari’ dari semua aktivitas rutin. Cobalah duduk atau berbaring untuk menenangkan diri dengan cara bermitasi. Cari ruang dan tempat yang sesuai untuk melakukan meditasi. Karena meditasi diyakini mampu menenangkan tekanan darah sekaligus membantu mereduksi tingkat tekanan jenuh. Meditasi atau berdoa akan membawa kita kembali ke sisi spiritual. Sebuah metode efektif relaksasi.
11.    Tidur sejenak
Cara mudah dan paling murah menghilangkan jenuh adalah tidur. Carilah tempat yang nyaman dan cobalah tidur sejenak delama 20 menit untuk menambah enersi yang terkuras setelah aktivitas yang simulai sejak dini hari. Survey menunjukkan bahwa istirahat dengan tidur sejenak selama 20-30 menit pada siang hari memberi keuntungan kesehatan ekstra disbanding mereka yang tidak melakukannya sama sekali. Pilih waktu yang tepat dan jangan terlalu sore, karena akan mengganggu tidur malam.
12.    Kegiatan luar rumah
Cobalah melakukan kegiatan di luar rumah barang sebentar untuk merubah suasana emosi. Berjalan-jalan dan menikmati sinar matahari pagi hari bisa mengganti energy kita yang mulai menipis.
13.    Jadwalkan waktu anda
Saat kita merasa mudah gelisah dan kehilangan konsentrasi. Cobalah membuat ulang jadwal kegiatan kita sehari-hari agar lebih variatif dan tidak membosankan.

MOOD


--------------------------------------------------------------------------------------------------

APAKAH KITA SERING “MUT-MUT-AN?”

--------------------------------------------------------------------------------------------------
Keunikan Mood Rasa-rasanya sudah biasa kita menggunakan istilah mood. Umumnya, istilah mood itu kita pahami sebagai suasana batin tertentu, bisa bad dan bisa good. Kalau melihat ke pendapat ahli, seperti yang dikutip Wikipedia misalnya, mood adalah keadaan emosi (state of emotion) yang berlangsung secara relatif, yang sebab-sebabnya seringkali subyektif atau tidak jelas. Jika seseorang merasa takut, itu ada sebabnya, entah faktual atau perceptual (sebab-sebab yang dipersepsikan seseorang). Sama juga kalau seseorang merasa gembira. Kegembiraan muncul karena sebab-sebab tertentu. Tapi untuk mood, sebabnya seringkali tidak jelas atau stimulusnya kerap kurang faktual. Misalnya  saja, kita tahu-tahu merasa bad mood saat mau berangkat ke kantor.
Penjelasan yang mirip sama juga bisa kita dapatkan dari bukunya Philip G. Zimbardo (Psychology and Life: 1979) tentang mood. Mood adalah keadaan emosi tertentu yang tidak masuk dalam kategori state (emosi yang dipicu oleh faktor eksternal tertentu) atau trait (bentuk emosi yang menjadi bawaan seseorang). Perubahan mood bisa berlangsung dalam ukuran jam atau hari. Bagi sebagian orang, perubahan mood kerap mempengaruhi gairahnya untuk  melakukan sesuatu atau bahkan bisa mempengaruhi keputusan dan tindakannya. Sejauh pengaruh itu tidak menyangkut ke urusan yang penting dan sangat menentukan, mungkin masih bisa kita bilang biasa.  Namanya juga orang hidup. Alam saja punya musim dan cuaca.
Tapi, bila itu sudah merembet ke urusan yang sangat penting, maka sulit rasanya untuk mengatakan itu biasa. Misalnya kita sedang menekuni keahlian tertentu. Jika gairah kita lebih sering dikendalikan oleh perubahan mood, mungkin akan sangat pelan kemajuan yang bisa kita raih, yang mestinya bisa kita raih lebih cepat, jika seandainya kita tidak mut-mutan (moody). Lebih-lebih jika perubahan mood itu sering kita alami sudah menyangkut ke urusan dengan orang lain atau organisasi. Misalnya kita tiba-tiba membatalkan janji dengan mitra gara-gara mood. Kita mengubah haluan yang sudah disepakati orang banyak gara-gara mood; atau kita mengambil keputusan penting yang menyangkut keluarga karena soal mood. Gampangnya ngomong, kita sudah menjadi orang yang mut-mutan sehingga sulit dipegang.   Mood Disorder Di dalam kajian Psikologi, ada istilah yang akrab disebut mood disorder atau perubahan mood yang sudah tidak sehat lagi atau kacau. Dr. C. George Boeree, dari Shippensburg University (Mood Disorder: 2003), menjelaskan bahwa Mood Disorder itu merupakan sisi ekstrim yang sudah tidak sehat (patologis) dari perubahan mood tertentu, misalnya terlalu girang atau terlalu malang (sadness and elation).  Definisi di atas rasa-rasanya sudah cukup untuk kita jadikan sebagai acuan perbaikan diri. Lain soal kalau kita ingin menggunakannya untuk presentasi tugas-tugas akademik yang menuntut sekian teori, perspektif, dan analisis data atau fakta. Untuk kepentingan perbaikan diri, pengaruh perubahan mood yang perlu kita deteksi itu antara lain adalah:
·         Apakah perubahan mood itu sudah benar-benar ekstrim hingga sudah bisa dibilang sangat membahayakan, misalnya ugal-ugalan saat berkendaraan di jalan raya atau membanting barang-barang yang berguna buat kita hingga fatal?
·         Apakah perubahan mood itu sudah benar-benar dapat melumpuhkan fungsi kita dengan sekian tanggung jawab yang harus kita jalankan hingga kita menjadi orang yang “EGP” (Emang Gue Pikiran) terhadap tugas-tugas kantor, tanggung jawab profesi,  atau tugas sebagai orangtua?
·         Apakah perubahan mood itu sudah membuahkan tanda-tanda rusaknya hubungan kita dengan orang lain gara-gara misalnya banyak janji yang tidak kita tepati, banyak missed call atau SMS yang tidak kita jawab, dan lain-lain?
Sekian jawaban yang bisa kita gali dari pertanyaan di atas memang masih belum tentu bisa disebut Mood Disorder secara teori keilmuannya. Hanya saja, dengan menggunakan akal sehat, pasti kita sudah bisa menyimpulkan bahwa perubahan mood yang sudah menimbulkan bahaya dan kerusakan, tentu bukan lagi urusan yang biasa atau normal.   Gaya Hidup Depresif Apa yang pertama-tama perlu kita telaah ketika perubahan mood yang kita alami itu sudah berdampak pada hal-hal buruk seperti di atas? Salah satu yang terpenting adalah gaya hidup, kebiasaan, atau tradisi, dalam arti prilaku yang berulang-ulang kita lakukan secara hampir tidak kita sadari sepenuhnya. Pertanyaannya, gaya hidup seperti apa? Gaya hidup yang bisa menjelaskan munculnya mood secara kebablasan (patologis) adalah gaya hidup depresif.  Seperti sudah sering kita baca di sini, depresi itu adalah stress yang berlanjut atau gagal kita tangani secara positif.  Dalam prakteknya, depresi itu ada yang sifatnya respondent dan ada yang sifatnya sudah menjadi tradisi yang berlangsung lama.
Depresi yang sifatnya respondent umumnya dipicu oleh kejadian eksternal yang kita rasakan stressful, seperti misalnya ada tragedi diri yang membuat kita harus hengkang dari kantor atau perusahaan yang selama ini kita besarkan, perceraian yang diawali peristiwa yang menyakitkan, atau kematian yang tidak normalnya menimpa orang tersayang, dan berbagai peristiwa lain yang sulit kita terima secara langsung. Jika acuannya praktek hidup, depresi yang respondent umumnya diketahui sebab-sebabnya atau kronologisnya. Ini agak beda dengan depresi yang sudah menjadi gaya hidup. Mungkin ada pemicunya, tetapi pemicu itu tidak kita sadari sehingga menggunung dan berlahan-lahan membuat kita merasa dikelilingi oleh berbagai beban, tekanan, dan ancaman.
Untuk menelaan apakah praktek hidup kita sehari-hari sudah diliputi berbagai beban, tekanan, dan ancaman yang depresif itu, mungkin gejala umum di bawah ini dapat kita jadikan acuan:
·         Menurunnya energi untuk melakukan sesuatu, bad mood.
·         Sulit berpikir atau berkonsentrasi sehingga membuat kita lupa atau tidak menyadari tanggung jawab, dari mulai yang sepele, katakanlah seperti lupa membayar makanan yang kita ambil, dan semisalnya
·         Inginnya tidur terus atau sulit tidur, ingin makan terus atau sulit makan
·         Tidak care lagi terhadap urusan penampilan, misalnya acak-acakan
·         Sulit mengambil keputusan atau cepat berubah-ubah keputusannya (tidak bisa dipegang)
·         Mengalami kelambanan psikomotorik, seperti ngomongnya sepenggal-sepengal, lamban meresponi sesuatu, atau males ngomong
·         Berpikir secara tidak sehat mengenai kematian
Membebaskan Diri Dari Depresi Di literaturnya, memang banyak pernyataan ahli yang mengingatkan agar kita tidak cepat berkesimpulan bahwa perubahaan mood yang sudah menciptakan gangguan itu murni karena depresi. Untuk mengetahui sebab-sebab yang spesifik, diperlukan pendalaman oleh tenaga ahli. Dan itu umumnya butuh waktu. Tapi, hampir semua sepakat bahwa depresi dapat membuat seseorang lebih sering dikendalikan oleh suasana batin dalam mengambil keputusan sehingga layak bisa dibilang mut-mutan. Karena batin kita sedang depresif, maka keputusan kita pun mencerminkan gejala-gejala depresi seperti di atas. Misalnya tidak konsentratif, tidak bergairah untuk bertanggung jawab, dan seterusnya.
Lantas, apa yang bisa kita lakukan agar depresi itu tak sampai membuahkan kebiasaan moody? Akan dibilang sombong jika kita berpikir sanggup mengantisipasi peristiwa depresif seratus persen. Banyak peristiwa menyakitkan yang tak sanggup diantisipasi oleh manusia atau oleh negara sekali pun, misalnya bencana. Ada bencana yang karena ulah manusia, tetapi ada yang karena sudah maktub (tertulis). Karena itu, selain memang perlu mengantisipasi, kita pun perlu melakukan mekanisasi (menciptakan mekanisme pertahanan-diri) untuk menghadapi peristiwa yang sudah tak bisa diantisipasi. Mekanisme ini dapat kita kelompokkan menjadi dua, yaitu:
  1. Mekanisme eksternal
  2. Mekanisme internal
Katakanlah kita kini merasakan situasi kantor atau rumah tangga yang benar-benar depresif dan sebab-sebabnya sudah ruwet, seperti benang kusut. Mekanisme eksternal yang bisa kita lakukan antara lain: mengatur (to manage), mengubah, memperbaiki, atau pindah ke situasi baru.  Tapi ini men-syaratkan kemampuan, kemantapan, dan tangggung jawab. Jika itu belum sanggup kita jalankan, maka yang bisa kita lakukan adalah menciptakan mekanisme internal. Jumlah dan bentuk mekanisme internal yang diciptakan Tuhan untuk mempertahankan hidup itu sangat tak terbatas, dari mulai menciptakan interpretasi baru, opini baru, definisi baru, makna baru, refleksi baru, sikap baru dan seterusnya.
Mekanisme internal itu intinya adalah upaya kita menciptakan pikiran, perasaan, dan keyakinan yang membuat kita menjadi lebih kuat dan lebih tercerahkan. Mekanisme internal ini bahkan lebih berperan ketimbang mekanisme eksternal dalam mengkondisikan seseorang menjadi depresi atau tidak. Dalam prakteknya, belum tentu orang yang di penjara itu lebih depresif ketimbang orang yang bebas. Belum tentu orang yang namanya dan gambarnya dijadikan sasaran tudingan dan hinaan di media atau demo itu lebih depresif. Bisa ya dan bisa tidak, atau bahkan malah bisa semakin matang, tergantung mekanisme internalnya.
Yang perlu kita jauhi bersama adalah, sudah kita belum mampu menciptakan mekanisme eksternal (karena soal berbagai cost), menciptakan mekanisme internal yang gratis pun tidak kita ciptakan. Atau malah membangun mekanisme internal yang semakin men-depresi-kan diri sendiri hingga membuat kualitas keputusan hidup kita menurun drastis atau mut-mutan melulu. Memang, mekanisme internal itu muncul dari sekian dukungan, mungkin nilai, ilmu, informasi, dan yang terpenting lagi adalah latihan (proses dan prosesi).
Semua dukungan itu hanya akan kita dapatkan setelah ada pondasi yang kuat, yaitu:
  1. Munculnya dorongan untuk berubah ke arah yang lebih baik
  2. Menyadari adanya kebutuhan untuk berubah.
Jika dua hal ini tidak ada, mungkin semua pintu akan tertutup. Dari laporan penelitian beberapa ahli diakui bahwa yang membuat orang tak kunjung bisa menguasai mood-nya adalah karena orang itu tidak menyadari adanya kebutuhan untuk mengubah dirinya. Bahkan mungkin merasa itulah yang benar.   Berpikir Hidup Ini Hanya Sekali Tidak semua perubahan hidup yang kita nilai sangat fundamental itu harus dimulai dari pemikiran yang canggih, pintar, dan kompleks. Itulah hebatnya keadilan Tuhan. Adakalnya bisa dimulai dari pemikiran yang sederhana, yang tidak hanya diketahui oleh para profesor, dan mungkin salah. Contohnya adalah berpikir “Hidup ini hanya sekali”. Untuk kita, ini salah karena hidup itu dua kali, tidak ada kalimat yang canggih di situ, dan  tak ada teori yang melatarbelakanginya. Tapi, jika kita berhasil menggunakannya untuk mengantisipasi munculnya gaya hidup yang depresif, hasilnya akan canggih. Dengan berpikir seperti itu, kita akan segera sadar, untuk apa kita membiarkan diri larut dan hanyut ke dalam gaya hidup yang depresif, wong hidup hanya seperti mampir ngombe (numpang minum) saja? Kenapa nggak kita nikmati saja hidup yang hanya sekali ini dengan sekian mekanisme yang bisa kita buat? “Gitu aja kok repot?”, mengenang ucapan Gus Dur semasa masih hidup.   Semoga bermanfaat.
diambil dari e-psikologi