Ini ketikanku, mana ketikanmu ?
Kamis, 01 April 2021
Jumat, 06 Juli 2012
PIL SEMANGAT
10 PIL SEMANGAT
Segala sesuatu yang kita
kerjakan harus selalu dibarengi dengan semangat yang tinggi. Karena tanpa
semangat kita tidak akan mengerjakan segala sesuatu dengan normal. Ada 10
langkah yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan semangat, yaitu:
1.
Membayangkan hasl akhir.
Membayangkan
hasil akhir yang menyenangkan akan memompa kita untuk berlatih atauberusaa
lebih keras lagi.
2.
Melihat model yang sukses.
Orang
yang pernah memiliki perjuangan yang sama dengan kita dan berhasil mempengaruhi
kita bersikap positif. Kita akan tambah bersemangat dan memiliki kemauan yang
kuat untuk menjadi sukses dan tidak akan takut untuk mewujudkan cita-cita kita.
3.
Mencari keuntungan.
Keuntungan-keuntungan
lain akan mengalihkan pusat perhatian kita dari hal yang membebani, ke sesuatu
yang menyenangkan.
4.
Memilih teman yang asyik.
Teman-teman
yang asyik akan membuat kita tetap bersemangat. Jika ada yang mau ‘jatuh’, maka
yang satu akan mendorong. Kita bisa mengubah sasana jadi lebih riang dengan
humor-humor kecil maupun obrolannya yang meriah.
5.
Memperhatikan penampilan.
Dengan
memakai baju yang disukai, kita jadi lebih suka pada diri kita, dan jika perlu
kita pakai wewangian yang segar.
6.
Membawa benda ‘keramat’.
Bukan
keris atau batu aki. Tapi sejenis batu atau benda-benda lain yang mempunyai
kenangan indah.
7.
Menjanjikan hadiah pada diri sendiri.
Hal
ini dapat membantu kita mengalihkan perhatian dari beban menuju harapan dengan
memberikan hadiah.
8.
Menyayangi diri sendiri.
Yang
paling tahu kondisi kita adalah diri kita sendiri. Yang paling tahu keinginan
kita adalah diri kita juga. Maka diri kitalah yang yang bisa menyemangati diri
sendiri.
9.
Melihat ke bawah.
Jika
kita terus melihat ke atas maka kita akan kecewa karena kita akan selalu tampak
kurang dibandingkan dengan yang lain. Dan sudah seharusnya kita juga mau
melihat kebawah. Kita akan merasa berunung disbanding mereka.
10.
Mengingat kesuksesan kita.
Kita bisa seperti
sekarang ini karena berbagai kesuksesan. Pada saat kita merasa datar-datar
saja, kita ingat kesuksesan yang pernah kita alami.
JENUH=BETE
TIPS ASYIK ATASI KEJENUHAN
Kesampingkan semua rutinitas
cobalah untuk bersantai degan memanjakan diri sendiri. Cobalah bersosialilsai,
bertemu degnan kawan lama. Berikut 15 jurus memupus jenuh yang bisa alian coba.
1. Ekspresikan
diri
Cari tempat dan waktu untuk menenangkan diri, dan mulailah
mengekspresikan diri. Bisa dengan menulis jurnal atau sekedar oret-oretan di
buku yang sudah disiapkan untuk mencurahkan unek-unek. Mulailah dengan hal yang
paling sederhana, tulislah dengan jujur tentang diri sendiri, apa yang
diinginkan, harapkan, semua rencana masa depan, dan hal yang ingin diwujudkan.
Tentang kutipan kata-kata mutiara, puisi, buku dan CD music favorit kamu.
2. Terus
bergerak
Dengan terus bergerak akan memberi banyak keuntungan, bukan saja untuk
fisik tapi juga emosi kita. Berjalan adalah salah satu bentuk latihan yang
paling mudah. Bisa dilakukan sendirian dengan teman dekat, atau mengikuti klub
olah raga.
3. Mainkan
music
Sebagai makanan jiwa, music diyakini mampu menyeimbangkan emosi.
4. Tertawa
lepas
Putar video lucu, cobalah sesantai mungkin dan biarkan kita tawa lepas
bersama banyolan konyol si pelawak.
5. Seleektif
makanan
Pasalnya ada jenis makanan tertentu yang justru memicu stress, rasa jenuh
dan emosional. Seperti rendah lemak, atau tinggi karbohidrat (popcorn, kue
bagel, biscuit beras). Cobalah jenis makanan berkarbohidrat kompleks, seperti
roti gandum, pasta, buah-buahan, yang memberi enersi lebih sepanjang hari.
Jangan lupa, bahwa cara makan yang benar adalah salah satu dasar menjaga
kesehatan sendiri.
6. Nikmati
kesendirian anda
Tentukan ruang dalam rumah, tempat dimana kita bisa meikmati semua
aktivitas secara pribadi. Cobalah mencari kesibukan, membaca novel cinta,
membuka surat-surat lama atau apa saja yang tidak mungkin dilakukan saat sibuk.
7. Hubungi
kenalan lama
Kita memiliki utang janji dengan seorang teman lama? Sekaranglah saatnya,
kita memiliki waktu luang, cobalah kontak dia dan buatlah percakapan yang
menarik dengannya. Pasti indah membongkar kembali kenangan manis masa dulu.
8. Tekuni
hobi
Melakukan hobi yang sudah lama tidak dilakukan seperti melukis, membuat
desain dan miniature puri, atau yang lain. Saat beranjak dewasa, kadang orang
mulai melupakan hobi dan menguburnya dalam-dalam. Demikian juga dengan
permainan masa kecil. Mengapa tidak melakukannya sesekali dengan mencoba
permainan masa kecil.
9. Cobalah
terapi air
Nikmati saat-saat sepi di rumah degnan terapi air. Nyalakan shower, isi
bath-tup dengan kemewahan busa sabun yang berllimpah. Tambah dengan aroma
terapi favorit Anda dan cobalah berendam santai. Biarkan semua jenuh dan
keletihan Anda terbasuh air.
10. Lakukan
meditasi
Siapkan 20 menit ntuk ‘lari’ dari semua aktivitas rutin. Cobalah duduk
atau berbaring untuk menenangkan diri dengan cara bermitasi. Cari ruang dan
tempat yang sesuai untuk melakukan meditasi. Karena meditasi diyakini mampu
menenangkan tekanan darah sekaligus membantu mereduksi tingkat tekanan jenuh.
Meditasi atau berdoa akan membawa kita kembali ke sisi spiritual. Sebuah metode
efektif relaksasi.
11. Tidur
sejenak
Cara mudah dan paling murah menghilangkan jenuh adalah tidur. Carilah
tempat yang nyaman dan cobalah tidur sejenak delama 20 menit untuk menambah
enersi yang terkuras setelah aktivitas yang simulai sejak dini hari. Survey
menunjukkan bahwa istirahat dengan tidur sejenak selama 20-30 menit pada siang
hari memberi keuntungan kesehatan ekstra disbanding mereka yang tidak
melakukannya sama sekali. Pilih waktu yang tepat dan jangan terlalu sore,
karena akan mengganggu tidur malam.
12. Kegiatan
luar rumah
Cobalah melakukan kegiatan di luar rumah barang sebentar untuk merubah
suasana emosi. Berjalan-jalan dan menikmati sinar matahari pagi hari bisa mengganti
energy kita yang mulai menipis.
13. Jadwalkan
waktu anda
Saat
kita merasa mudah gelisah dan kehilangan konsentrasi. Cobalah membuat ulang
jadwal kegiatan kita sehari-hari agar lebih variatif dan tidak membosankan.
MOOD
--------------------------------------------------------------------------------------------------
APAKAH KITA SERING “MUT-MUT-AN?”
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Keunikan Mood Rasa-rasanya sudah biasa kita menggunakan istilah mood. Umumnya, istilah
mood itu kita pahami sebagai suasana batin tertentu, bisa bad dan
bisa good.
Kalau melihat ke pendapat ahli, seperti yang dikutip Wikipedia misalnya, mood adalah
keadaan emosi (state
of emotion) yang berlangsung secara relatif, yang sebab-sebabnya
seringkali subyektif atau tidak jelas. Jika seseorang merasa takut, itu ada
sebabnya, entah faktual atau perceptual (sebab-sebab yang dipersepsikan
seseorang). Sama juga kalau seseorang merasa gembira. Kegembiraan muncul karena
sebab-sebab tertentu. Tapi untuk mood, sebabnya seringkali tidak jelas atau
stimulusnya kerap kurang faktual. Misalnya saja, kita tahu-tahu merasa bad
mood saat mau berangkat ke kantor.
Penjelasan yang mirip sama juga bisa kita dapatkan dari
bukunya Philip G. Zimbardo (Psychology and Life: 1979) tentang mood.
Mood
adalah keadaan emosi tertentu yang tidak masuk dalam kategori state
(emosi yang dipicu oleh faktor eksternal tertentu) atau trait
(bentuk emosi yang menjadi bawaan seseorang). Perubahan mood bisa
berlangsung dalam ukuran jam atau hari. Bagi sebagian orang, perubahan mood kerap
mempengaruhi gairahnya untuk melakukan sesuatu atau bahkan bisa
mempengaruhi keputusan dan tindakannya. Sejauh pengaruh itu tidak menyangkut ke
urusan yang penting dan sangat menentukan, mungkin masih bisa kita bilang
biasa. Namanya juga orang hidup. Alam saja punya musim dan cuaca.
Tapi, bila itu sudah merembet ke urusan yang sangat penting,
maka sulit rasanya untuk mengatakan itu biasa. Misalnya kita sedang menekuni keahlian
tertentu. Jika gairah kita lebih sering dikendalikan oleh perubahan mood,
mungkin akan sangat pelan kemajuan yang bisa kita raih, yang mestinya bisa kita
raih lebih cepat, jika seandainya kita tidak mut-mutan (moody). Lebih-lebih jika perubahan mood
itu sering kita alami sudah menyangkut ke urusan dengan orang lain atau
organisasi. Misalnya kita tiba-tiba membatalkan janji dengan mitra gara-gara mood.
Kita mengubah haluan yang sudah disepakati orang banyak gara-gara mood;
atau kita mengambil keputusan penting yang menyangkut keluarga karena soal mood.
Gampangnya ngomong, kita sudah menjadi orang yang mut-mutan
sehingga sulit dipegang. Mood Disorder Di dalam kajian Psikologi, ada
istilah yang akrab disebut mood disorder atau perubahan mood
yang sudah tidak sehat lagi atau kacau. Dr. C. George Boeree, dari Shippensburg
University (Mood Disorder: 2003), menjelaskan bahwa Mood Disorder
itu merupakan sisi ekstrim yang sudah tidak sehat (patologis) dari perubahan mood tertentu,
misalnya terlalu girang atau terlalu malang (sadness and elation). Definisi di atas
rasa-rasanya sudah cukup untuk kita jadikan sebagai acuan perbaikan diri. Lain
soal kalau kita ingin menggunakannya untuk presentasi tugas-tugas akademik yang
menuntut sekian teori, perspektif, dan analisis data atau fakta. Untuk
kepentingan perbaikan diri, pengaruh perubahan mood yang perlu
kita deteksi itu antara lain adalah:
·
Apakah perubahan mood itu sudah benar-benar
ekstrim hingga sudah bisa dibilang sangat membahayakan, misalnya ugal-ugalan saat
berkendaraan di jalan raya atau membanting barang-barang yang berguna buat kita
hingga fatal?
·
Apakah perubahan mood itu sudah benar-benar
dapat melumpuhkan fungsi kita dengan sekian tanggung jawab yang harus kita
jalankan hingga kita menjadi orang yang “EGP” (Emang Gue Pikiran) terhadap
tugas-tugas kantor, tanggung jawab profesi, atau tugas sebagai orangtua?
·
Apakah perubahan mood itu sudah membuahkan
tanda-tanda rusaknya hubungan kita dengan orang lain gara-gara misalnya banyak
janji yang tidak kita tepati, banyak missed call atau SMS yang
tidak kita jawab, dan lain-lain?
Sekian jawaban yang bisa kita gali dari pertanyaan di atas
memang masih belum tentu bisa disebut Mood Disorder secara teori keilmuannya.
Hanya saja, dengan menggunakan akal sehat, pasti kita sudah bisa menyimpulkan
bahwa perubahan mood
yang sudah menimbulkan bahaya dan kerusakan, tentu bukan lagi urusan yang biasa
atau normal. Gaya Hidup Depresif Apa yang pertama-tama
perlu kita telaah ketika perubahan mood yang kita alami itu sudah berdampak pada
hal-hal buruk seperti di atas? Salah satu yang terpenting adalah gaya hidup,
kebiasaan, atau tradisi, dalam arti prilaku yang berulang-ulang kita lakukan
secara hampir tidak kita sadari sepenuhnya. Pertanyaannya, gaya hidup seperti
apa? Gaya hidup yang bisa menjelaskan munculnya mood secara
kebablasan (patologis) adalah gaya hidup depresif. Seperti sudah sering
kita baca di sini, depresi itu adalah stress yang berlanjut atau gagal kita
tangani secara positif. Dalam prakteknya, depresi itu ada yang sifatnya respondent
dan ada yang sifatnya sudah menjadi tradisi yang berlangsung lama.
Depresi yang sifatnya respondent umumnya dipicu oleh kejadian
eksternal yang kita rasakan stressful, seperti misalnya ada tragedi diri yang
membuat kita harus hengkang dari kantor atau perusahaan yang selama ini kita
besarkan, perceraian yang diawali peristiwa yang menyakitkan, atau kematian
yang tidak normalnya menimpa orang tersayang, dan berbagai peristiwa lain yang
sulit kita terima secara langsung. Jika acuannya praktek hidup, depresi yang respondent
umumnya diketahui sebab-sebabnya atau kronologisnya. Ini agak beda dengan
depresi yang sudah menjadi gaya hidup. Mungkin ada pemicunya, tetapi pemicu itu
tidak kita sadari sehingga menggunung dan berlahan-lahan membuat kita merasa
dikelilingi oleh berbagai beban, tekanan, dan ancaman.
Untuk menelaan apakah praktek hidup kita sehari-hari sudah
diliputi berbagai beban, tekanan, dan ancaman yang depresif itu, mungkin gejala
umum di bawah ini dapat kita jadikan acuan:
·
Menurunnya energi untuk melakukan sesuatu, bad mood.
·
Sulit berpikir atau berkonsentrasi sehingga membuat
kita lupa atau tidak menyadari tanggung jawab, dari mulai yang sepele,
katakanlah seperti lupa membayar makanan yang kita ambil, dan semisalnya
·
Inginnya tidur terus atau sulit tidur, ingin makan
terus atau sulit makan
·
Tidak care lagi terhadap urusan
penampilan, misalnya acak-acakan
·
Sulit mengambil keputusan atau cepat berubah-ubah
keputusannya (tidak bisa dipegang)
·
Mengalami kelambanan psikomotorik, seperti ngomongnya
sepenggal-sepengal, lamban meresponi sesuatu, atau males ngomong
·
Berpikir secara tidak sehat mengenai kematian
Membebaskan Diri Dari
Depresi Di literaturnya, memang
banyak pernyataan ahli yang mengingatkan agar kita tidak cepat berkesimpulan bahwa
perubahaan mood yang sudah menciptakan gangguan itu murni karena depresi. Untuk
mengetahui sebab-sebab yang spesifik, diperlukan pendalaman oleh tenaga ahli.
Dan itu umumnya butuh waktu. Tapi, hampir semua sepakat bahwa depresi dapat
membuat seseorang lebih sering dikendalikan oleh suasana batin dalam mengambil
keputusan sehingga layak bisa dibilang mut-mutan. Karena batin kita sedang
depresif, maka keputusan kita pun mencerminkan gejala-gejala depresi seperti di
atas. Misalnya tidak konsentratif, tidak bergairah untuk bertanggung jawab, dan
seterusnya.
Lantas, apa yang bisa kita lakukan agar depresi itu tak
sampai membuahkan kebiasaan moody? Akan dibilang sombong jika kita berpikir
sanggup mengantisipasi peristiwa depresif seratus persen. Banyak peristiwa
menyakitkan yang tak sanggup diantisipasi oleh manusia atau oleh negara sekali
pun, misalnya bencana. Ada bencana yang karena ulah manusia, tetapi ada yang
karena sudah maktub
(tertulis). Karena itu, selain memang perlu mengantisipasi, kita pun perlu melakukan
mekanisasi
(menciptakan mekanisme pertahanan-diri) untuk menghadapi peristiwa yang sudah
tak bisa diantisipasi. Mekanisme ini dapat kita kelompokkan menjadi dua, yaitu:
- Mekanisme eksternal
- Mekanisme internal
Katakanlah kita kini merasakan situasi kantor atau rumah
tangga yang benar-benar depresif dan sebab-sebabnya sudah ruwet, seperti benang
kusut. Mekanisme eksternal yang bisa kita lakukan antara lain: mengatur (to
manage), mengubah, memperbaiki, atau pindah ke situasi baru. Tapi ini
men-syaratkan kemampuan, kemantapan, dan tangggung jawab. Jika itu belum
sanggup kita jalankan, maka yang bisa kita lakukan adalah menciptakan mekanisme
internal. Jumlah dan bentuk mekanisme internal yang diciptakan Tuhan untuk
mempertahankan hidup itu sangat tak terbatas, dari mulai menciptakan
interpretasi baru, opini baru, definisi baru, makna baru, refleksi baru, sikap
baru dan seterusnya.
Mekanisme internal itu intinya adalah upaya kita menciptakan
pikiran, perasaan, dan keyakinan yang membuat kita menjadi lebih kuat dan lebih
tercerahkan. Mekanisme internal ini bahkan lebih berperan ketimbang mekanisme
eksternal dalam mengkondisikan seseorang menjadi depresi atau tidak. Dalam
prakteknya, belum tentu orang yang di penjara itu lebih depresif ketimbang
orang yang bebas. Belum tentu orang yang namanya dan gambarnya dijadikan
sasaran tudingan dan hinaan di media atau demo itu lebih depresif. Bisa ya dan
bisa tidak, atau bahkan malah bisa semakin matang, tergantung mekanisme
internalnya.
Yang perlu kita jauhi bersama adalah, sudah kita belum mampu menciptakan mekanisme eksternal (karena soal berbagai cost), menciptakan mekanisme internal yang gratis pun tidak kita ciptakan. Atau malah membangun mekanisme internal yang semakin men-depresi-kan diri sendiri hingga membuat kualitas keputusan hidup kita menurun drastis atau mut-mutan melulu. Memang, mekanisme internal itu muncul dari sekian dukungan, mungkin nilai, ilmu, informasi, dan yang terpenting lagi adalah latihan (proses dan prosesi).
Yang perlu kita jauhi bersama adalah, sudah kita belum mampu menciptakan mekanisme eksternal (karena soal berbagai cost), menciptakan mekanisme internal yang gratis pun tidak kita ciptakan. Atau malah membangun mekanisme internal yang semakin men-depresi-kan diri sendiri hingga membuat kualitas keputusan hidup kita menurun drastis atau mut-mutan melulu. Memang, mekanisme internal itu muncul dari sekian dukungan, mungkin nilai, ilmu, informasi, dan yang terpenting lagi adalah latihan (proses dan prosesi).
Semua dukungan itu hanya akan kita dapatkan setelah ada
pondasi yang kuat, yaitu:
- Munculnya dorongan untuk berubah ke arah yang lebih baik
- Menyadari adanya kebutuhan untuk berubah.
Jika dua hal ini tidak ada, mungkin semua pintu akan
tertutup. Dari laporan penelitian beberapa ahli diakui bahwa yang membuat orang
tak kunjung bisa menguasai mood-nya adalah karena orang itu tidak menyadari
adanya kebutuhan untuk mengubah dirinya. Bahkan mungkin merasa itulah yang
benar. Berpikir Hidup Ini Hanya Sekali Tidak semua
perubahan hidup yang kita nilai sangat fundamental itu harus dimulai dari
pemikiran yang canggih, pintar, dan kompleks. Itulah hebatnya keadilan Tuhan.
Adakalnya bisa dimulai dari pemikiran yang sederhana, yang tidak hanya
diketahui oleh para profesor, dan mungkin salah. Contohnya adalah berpikir
“Hidup ini hanya sekali”. Untuk kita, ini salah karena hidup itu dua kali,
tidak ada kalimat yang canggih di situ, dan tak ada teori yang
melatarbelakanginya. Tapi, jika kita berhasil menggunakannya untuk
mengantisipasi munculnya gaya hidup yang depresif, hasilnya akan canggih.
Dengan berpikir seperti itu, kita akan segera sadar, untuk apa kita membiarkan
diri larut dan hanyut ke dalam gaya hidup yang depresif, wong hidup
hanya seperti mampir
ngombe (numpang minum) saja? Kenapa nggak kita nikmati saja hidup
yang hanya sekali ini dengan sekian mekanisme yang bisa kita buat? “Gitu
aja kok repot?”, mengenang ucapan Gus Dur semasa masih hidup.
Semoga bermanfaat.
diambil dari e-psikologi
Langganan:
Komentar (Atom)